IndiHome Wujudkan Memori yang Tak Lekang akan Waktu

Ada banyak jawaban yang langsung terbesit ketika pertanyaan mengenai apa saja yang membentuk diri saya sejak saya masih berseragam merah-putih hingga kini saya akan mengucapkan selamat tinggal kepada sekolah menengah atas. Mulai dari orang tua, teman-teman, maupun lingkungan di mana saya tumbuh. Ketiga jawaban tersebut benar adanya. Seiring bertambahnya usia, saya menyadari bahwa ada sesuatu yang tampaknya tidak sebesar ketiga hal di atas, namun hal tersebut mampu memberikan pengaruh yang signifikan bagi perkembangan diri saya. Tiada pertanyaan tanpa jawaban, seperti saya yang akan menjawab, “Internet!” dengan lantang atas pertanyaan tersebut.

Perkenalan saya dengan internet diawali dengan kisah klise ala anak sekolahan. Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, saya menggunakan internet untuk sekedar bermain online games. Jika saya disuruh mengingat game apa yang saya mainkan dulu, sudah pasti sekarang saya akan tertawa sebelum menyebutkannya. Saya yakin, banyak di antara kalian yang pernah memainkan Love Calculator, kan? Begitu pula dengan saya. Mengisengi teman dengan menyandingkan namanya dan tambatan hatinya di Love Calculator memberikan kepuasan tersendiri bagi saya.

Sejak kecil, saya sangat senang untuk berbicara di depan kamera;. Ketika liburan keluarga, Papa gemar mendokumentasikan momen dengan merekam. Saya pun kerap muncul di frame video dan menjelaskan kegiatan yang sedang kami lakukan. Meskipun kosakata yang saya miliki pada saat itu belum terlalu luas, namun Papa sangat suportif dan membantu saya merangkai kalimat. Papa bahkan menganjurkan saya untuk membuat kanal YouTube pribadi agar saya memiliki wadah untuk berkreasi.

Masih tercetak jelas di ingatan saya tentang 27 Juni 2014 sore hari. Kebetulan, pada saat itu, rumah saya belum terpasang internet provider. Oleh karena itu, saya diajak Papa berkunjung ke rumah Nenek karena di sana sudah terpasang internet provider IndiHome dari Telkom Indonesia. Sesampainya di sana, Papa tidak serta merta membuatkan akun Gmail dan kanal YouTube untuk saya, melainkan saya hanya diarahkan saja agar mampu membuat akun sendiri. Hal itu justru membuat saya lebih senang karena Papa memberikan saya kesempatan untuk belajar.

Naik ke tingkat tiga sekolah dasar, saya mulai mengeksplor dunia literasi. Novel yang sering saya baca berasal dari Kecil-kecil Punya Karya, sebuah label yang menaungi karya sastra anak dengan rentang umur 7 sampai 12 tahun. Dari hobi sekedar membaca, saya memiliki ide impulsif untuk membuat konten tentang buku di YouTube. Konten pertama yang saya unggah mengusung konsep Indonesian Book Tag, di mana saya mengurutkan susunan judul buku yang saya miliki secara alfabetis mulai dari A sampai Z. Konten ini saya publikasikan pada 9 September 2016. Sayangnya, saya tidak memiliki arsip video ini karena saya menghapusnya secara permanen di kanal lama YouTube saya. Andai pada waktu itu saya tahu bahwa pengaturan privasi video YouTube bisa diubah menjadi private, tentu saya tidak akan menghapusnya.



Kendati sempat vakum selama beberapa waktu karena keterbatasan perangkat rekaman, saya mulai mengisi kembali kanal YouTube saya pada akhir tahun 2021 sampai sekarang. Saat ini, video yang saya unggah secara publik di YouTube berjumlah delapan video. Sebagian besar konten video-video tersebut adalah kegiatan jalan-jalan bersama teman-teman saya. Dua di antaranya berhasil menjadi video kesukaan saya, yaitu video bertajuk “kucingers goes to ikea !!” yang saya unggah pada 24 April 2022 (https://www.youtube.com/watch?v=XA4oyoFmkw0) dan “ubud vacay with novel” yang saya unggah pada 12 Desember 2022 (https://www.youtube.com/watch?v=B-2gQh5yHeQ&t=59s).




Jika dilihat dari jumlah video yang saya unggah, bisa dibilang saya tidak konsisten mengisi kanal YouTube saya secara periodik. Saya hanya menjadikan YouTube sebagai tempat berbicara dan membagikan momen-momen mengesankan dalam hidup saya. Simpelnya, saya hanya menggunakannya sebagai arsip hidup yang tak lekang akan waktu. Nantinya, video-video yang sudah saya unggah dapat saya tonton kembali pada masa depan untuk melihat seberapa jauh saya sudah melangkah.

IndiHome memang tak main-main soal kualitas kecepatan internetnya selama pemakaian saya beberapa tahun terakhir ini, terutama pada saat mengunggah video ke YouTube. Tak hanya perihal kualitas, IndiHome juga totalitas dalam memberikan pembuktian slogannya yang mengusung “Aktivitas Tanpa Batas”. Berkat IndiHome, saya dapat mengeksplor minat saya sejak usia belia tanpa dihalang oleh batas umur tertentu.

Sedari awal merintis kanal YouTube hingga kini, internet provider IndiHome dari Telkom Indonesia senantiasa menemani saya dalam pelayaran hidup. Besar harapan saya agar pelayaran saya bersama IndiHome tidak hanya sampai di sini saja, namun berlanjut dalam jangka panjang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Offline Concert dan Kebangkitan EO Pascapandemi