Offline Concert dan Kebangkitan EO Pascapandemi

        Dua tahun yang lalu, tepatnya pada 2 Maret 2020, COVID 19 mulai terdeteksi di Indonesia. Kasus COVID-19 pertama teridentifikasi di Depok, Jawa Barat. Sejak saat itu, fondasi Indonesia untuk bertahan di tengah masa sulit perlahan-lahan mulai goyah. ‘Pandemi’ hanya terdiri dari satu kata namun wabah ini mampu menyebarkan pengaruhnya terhadap sebagian besar sektor kehidupan dan memaksa masyarakat untuk beradaptasi dengan keadaan yang tidak pernah disangka-sangka. Industri musik pun tak luput dari dampak pandemi COVID-19. Event Organizer (EO) sebagai salah satu pelaku di dalam industri tersebut, berjalan tertatih-tatih selama pandemi.

Sebelum pandemi, EO adalah pekerjaan yang sangat menjanjikan. Nominal yang rela dibayarkan oleh klien tentunya sepadan dengan kerja keras yang dilakukan tenaga kerja. Selain itu, tenaga kerja EO mampu mengembangkan kemampuan dalam mengorganisir suatu kegiatan. Pekerjaan seorang EO membutuhkan banyak mitra kerja seperti pelaku bisnis panggung, videografer, sound system, dan sejenisnya. Penting bagi seorang pekerja EO untuk menguasai cara bersosialisasi dan membangun relasi yang baik dengan mitra kerja demi kelancaran serta efisiensi kerja perusahaan. Tak hanya aspek finansial, aspek sosial tenaga kerja pun terpenuhi melalui pekerjaan EO.

Namun, setelah pandemi mulai merajalela dan merongrong kehidupan masyarakat, permintaan akan tenaga kerja EO menurun drastis. Hal ini terjadi lantaran pemerintah mengeluarkan banyak kebijakan untuk membatasi kegiatan berkumpul dan kontak fisik demi menekan angka penularan COVID-19. Puncaknya, pada 31 Maret 2020 pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam Rangka Percepatan Penanganan COVID-19. Tak ayal, kebijakan ini menuai kontra dari pekerja lapangan seperti EO karena menghambat usaha mereka untuk mencari nafkah.

Kerugian yang dialami oleh EO bisa dikatakan berada di titik tertinggi dalam sejarah. Klien yang sudah mempercayakan kegiatannya kepada sebuah EO misalnya, terpaksa menunda pelaksanaan hingga keadaan kembali pulih, bahkan tidak sedikit klien yang membatalkan acaranya. Pihak EO mau tidak mau dipaksa untuk menerima permintaan pembatalan tersebut. Imbasnya, pihak EO akhirnya terkena penalti oleh mitra kerja yang berdampak pada turunnya kepercayaan mitra kerja terhadapnya.

Head in the Clouds di Pasadena, California pada 20-21 Agustus 2022 | Megan Cai

Head in the Clouds di Pasadena, California pada 20-21 Agustus 2022 Megan Cai

        Kini, dua tahun lebih sejak kasus pertama COVID-19 di Indonesia, angka penularan COVID-19 menunjukkan penurunan yang signifikan. Perlahan tapi pasti, perekonomian negara membaik karena pemerintah melonggarkan kebijakan pembatasan sosial. Kondisi ini memberikan angin segar bagi para pengusaha EO. Offline concert kini mulai menjamur. Pada tahun ini banyak offline concert yang mulai diselenggarakan, Head in the Clouds salah satunya. Acara musik berskala internasional yang dinaungi oleh 88rising ini menggelar kegiatannya di tiga kota besar dunia, yakni California, Jakarta, dan Manila. 


 UNIVLOX LIVE #LITENIGHT 4 di Nusa Dua, Bali pada 20 Agustus 2022 | Agus Devayana

Acara musik berskala nasional pastinya juga mulai mengambil kesempatan. UNIVLOX, sebuah EO Indonesia berhasil menggelar #LITENIGHT4 di Nusa Dua, Bali pada 20 Agustus 2022 dengan mengajak artis-artis papan atas Indonesia seperti Andra and the Backbone, Dewa19, Geisha, MANJA, The Changcuters, dan Tiara Andini. Line-up artists yang menjanjikan membuat jumlah penonton membludak. Per tanggal 18 Juli 2022, kuota tiket penonton sudah kurang dari 20% sejak pembukaan pembelian tiket pada 2 Juli 2022. Adanya offline concert sudah sangat dinanti-nanti oleh penonton karena merindukan suasana konser yang sebenarnya. 

Pelaku industri musik, terutama pekerja EO dalam pelaksanaan offline concert mulai bangkit di tengah keadaan pemulihan pascapandemi COVID-19. Pekerja di bidang EO, kini mendapatkan tempatnya kembali untuk bertumbuh dan berkembang dalam sektor yang mereka bidangi. Masalah keuangan pun perlahan teratasi, sejalan dengan meningkatnya permintaan klien akan pengorganisasian offline concert. Dengan etos kerja yang mumpuni, kesejahteraan emosional dan finansial dapat dituai sekaligus. Seiring berjalannya waktu, pekerja EO mampu menggenggam kembali manisnya masa kejayaan yang pernah diraih sebelum pandemi.


    Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Pembuatan Konten Media Sosial dalam rangka Memperingati HUT RI ke-77 dengan tema Kembali Berkarya : Pulih Lebih Cepat Bangkit Lebih Kuat yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika DIY.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IndiHome Wujudkan Memori yang Tak Lekang akan Waktu